Home » Udaipur, Rajasthan Trip (India – Part 3)

Udaipur, Rajasthan Trip (India – Part 3)

Dari balik kaca mobil, kami melihat pantulan kilauan lampu-lampu kota pada air danau yang tenang. Di sisi lainnya, sekilas gagahnya City Palace juga terefleksikan secara samar-samar, pantulannya bergoyang-goyang mengikuti ombak kecil karena angin. Mobil kami melaju menyebrangi jembatan kecil yang menghubungkan jalan raya ke pemukiman old town di seberang danau. Sampai di ujungnya, si sopir menghentikan laju. “Car can’t go further, one way only. Your hotel not far, so you walk from here. Ok?“, tentu saja berjalan kaki sebentar tidak masalah bagi kami! Bokongku rasanya sudah panas setelah perjalanan “menyeramkan” selama 5 jam terakhir! Miguel, yang selama perjalanan tegang, menghela nafas lega, seperti baru turun dari roller coaster. Novie pun ikut menghentikan mulutnya yang sedari tadi komat-kamit sambil merem. Sedangkan aku dan Harvin, hanya terkekeh-kekeh mengingat kejadian yang kurang menyenangkan di perjalanan ini.

Sambil berjalan kaki mencari-cari hostel kami, Miguel terus-terusan mengomel betapa traumanya dia naik mobil di India. Padahal, lalu lintas di daerah Rajasthan -setidaknya, yang telah kami kunjungi- ini tidak sepadat di New Delhi atau Mumbay (yah, walaupun belum pernah ke sana juga, sih). Namun, cara sopir-sopir mengendarai sepertinya tidak jauh berbeda. Di perjalanan tadi, kami sempat mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Akan aku ceritakan pada post berbeda.

Akhirnya kami sudah menemukan hostel kami, dan ingin segera menjatuhkan badan ke kasur. Pintu masuk Banjara Hostel agak sulit ditemukan karena harus masuk ke sebuah gang kecil yang bersembunyi di antara kios-kios pernak-pernik. Sepanjang jalan tadi, kami banyak menjumpai kios-kios yang menjual buku-buku, kartu pos, perhiasan, dan juga baju-baju.

Malam itu, kami memesan satu kamar dorm yang berisi pas 4 kasur. Tarif permalam di Udaipur agak mahal dibandingkan dengan kamar-kamar kami di dua kota sebelumnya, jadi gadis-gadis dalam trip ini rela tidak mendapatkan kamar private lagi. Untuk membandingkan gaya hidupnya di kota di Indonesia, bisa dikatakan Jodhpur adalah Yogyakarta, dan Udaipur adalah Bali.

Sebelum tidur, kami memutuskan untuk menikmati makan malam (yang terlambat) di cafe di rooftop dengan view danau dan Jagdish temple, tentunya aku juga memesan susu hangat agar bisa tidur nyenyak. Susu hangat juga cukup membuatku merasa tenang di tengah suasana hingar bingar cafe. Alunan musik disco tidak pernah cocok ditelingaku. Meja di depan kami ditempati oleh 3 pasangan muda-mudi lokal. Sepasang diantaranya tak malu-malu berciuman di depan umum. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang diceritakan oleh Kassam, host hostel kami di Jaisalmer. Di Jaisalmer, pemuda-pemuda dianggap tabu jika berteman dengan para gadis. Mereka bahkan tidak diperbolehkan berpacaran, setidaknya jangan sampai ketahuan. Di Jodhpur, kota dengan penduduk mayoritas muslim, kami juga merasakan malam yang penuh ketenangan, jam 8 malam saja sudah sepi. Sedangkan di Udaipur, kota yang juga dikenal sebagai kota romantis ini langsung memberikan kesan yang berbeda. Tidak sabar untuk menjelajahi kota besok pagi!

———-

Day 1. City Palace Tour, Jagdish Temple, Pichola Lake Boat Tour, Mansapurna Karni Mata Ropeway

Sunrise pertama kami di Udaipur melalui rooftop Hostel.

Tidak ada jendela di kamar kami membuatku ingin segera keluar kamar untuk mandi matahari pagi. Aku langsung pergi ke rooftop untuk sarapan gratis. Tersaji makanan India dan ala westren dengan roti tawar dan beberapa sereal yang disajikan secara prasmanan. Sudah menjadi kebiasanku untuk mencoba semua makanan prasmanan di mana pun aku menginap. Jadi, selain mengambil sereal, aku juga mengambil hidangan India.

Sarapan dengan pemandangan danau yang berkilauan cahaya matahari pagi, meninggalkan kesan tersendiri. Aku juga langsung jatuh cinta dengan kota ini, seperti aku jatuh cinta pada Jaisalmer dan Jodhpur. Apalagi kota ini adalah kota yang paling ramah dengan turis. Dengan di kelilingi oleh danau-danau buatan, sekilas kota ini seperti kota Venesia di Italia (walaupun aku sendiri belum pernah ke sana).

Muka-muka bangun tidur dan lelah. Gimana? Bagus kan pemandangan di belakangnya?

City Palace baru buka pukul 9.30 pagi, kami sengaja datang sesuai jam buka untuk menghindari keramaian. Istana ini merupakan Istana Kerjaaan Mewar. Menurutku pribadi, pengelolaannya kurang maksimal jika dibandingkan dengan Mehrangarh.

City Palace sendiri sangat unik dan merupakan kompleks kerajaan terbesar di Rajasthan. Dengan mengikuti arsitektur Cina-Eropa, ia berdiri megah di pinggir danau Pichola. Sayangnya, hanya area museum saja yang bisa dikunjungi sebagai atraksi.

Walaupun di luar terlihat hanya bangunan putih dengan detil-detil polos, tapi banyak ruangan-ruangan di dalam istana yang berwarna-warni dan berkilauan, serta terdapat koleksi-koleksi seperti lukisan, patung-patung dan lain-lain. Kami tidak menyewa audio walaupun museum City Palace menyediakannya dengan biaya tambahan. Kami juga tidak menyewa tour guide lokal untuk memandu kami. Bukannya sombong dan sok pintar, kami hanya berusaha menghemat pengeluaran, hehe. Tapi, aku menyarankan kalian menyewa tour guide daripada menyewa audio. Alasannya, supaya ada yang fotoin! Hehe. Dengan menyewa tour guide tentunya kalian akan lebih jelas menerima informasi-informasi sejarah mengenai kerajaan ini sendiri dan lingkungan sekitar.

Usai berkeliling City Palace, tentunya kami ingin mencoba menaiki perahu mengelilingi danau Pichola, salah satu atraksi populer di Udaipur. Namun, sebelumnya kami mampir terlebih dahulu mengunjungi Jagdish temple yang berada di ujung jalan istana.

Untuk memasuki kawasan kuil, kami diharuskan menanjaki tangga yang cukup tinggi. Di pinggir-pinggir tangga, terdapat beberapa pedagang bunga untuk puji-pujian. Sesampainya di atas, dua patung gajah besar menyambut para pengunjung maupun pesembahyang. Kami juga harus melepaskan alas kaki untuk masuk ke dalam. Untung kami datang saat matahari belum berada tepat di atas kepala, jadi masih bisa berjalan tanpa harus jinjit-jinjit karena ubin yang kepanasan.

Terdengar alunan lagu puji-pujian yang dinyanyikan para pesembahyang. Kami masuk sebentar untuk melihat keadaan dalam kuil dan dewa yang sedang mereka sembah. Aku hendak ingin mengabadikan momen sakral ini, namun sayangnya terdapat papan larangan mengambil foto di dalam area kuil, jadi langsung kuurungkan niatku.

Detil bangunan Jagdish temple ini sangat mengagumkan. Dengar-dengar arsitektur Jagdish temple ini adalah kuil termegah di masa kerajaan Mewar. Bangunannya juga didirikan mengikuti aturan Vastu Shastra (feng sui-nya Hindu, original dari India). Selain itu, ukiran-ukirannya sendiri, aku rasa mempunyai makna dan cerita. Sebaiknya mungkin menyewa guide juga untuk mengetahui sejarah lebih dalam mengenai arsitektur dan sejarah kuil ini.

Takut semakin panas, kami segera menuju lokasi penjualan tiket persewaan perahu. Ternyata letaknya cukup jauh, karena harus mengelilingi kawasan istana dari luar. Padahal jika kawasan istana dibuka semuanya, bisa dijangkau dari dalam kawasan istana. Tapi, tidak masalah, kami jadi bisa berjalan kaki sekaligus menikmati suadana kota ini. Selain melewati pasar dan pertokoan disepanjang jalan, kami juga banyak menjumpai pedagang samosa atau gorengan-gorengan khas India. Melihat gerobak-gerobak itu membuat kami lapar, tapi tidak berani sembarangan beli sesuatu di pinggir jalan.

Pas sekali ada perahu yang sudah siap berangkat ketika kami membeli tiket. Perahu tersebut bisa diisi hingga 20 orang. Masing-masing penumpang mendapatkan live jacket. Dari perahu, kami melihat Istana yang semakin menjauh, lalu menuju ke arah Taj Lake Palace Hotel, hotel berbintang yang berdiri di atas danau Pichola. Tentunya perahu kami hanya lewat saja, karena area tersebut tidak dibuka untuk umum selain untuk tamu hotel.

Taj Lake Palace sendiri sebelumnya dikenal sebagai Jag Niwas, sebuah istana yang dibangun oleh Maharana Jagat Singh pada tahun 1743 dan selesai pada tahun 1746. Kemudian sekarang difungsikan sebagai hotel yang dikelola oleh Indian Hotels. Gedungnya yang berwarna putih berdiri di atas danau, membuat kami penasaran gimana rasanya berada di dalam Taj Lake Palace memandangi kota Udaipur dan City Palace yang megah. Tapi lihat daftar harga kamarnya dari website saja bikin nelen ludah. Haha.

Tur berkeliling danau hanya berlangsung 15 menit saja, rasanya kurang puas. Katanya, lebih asyik kalau mengikuti sunset boating tour, di mana kita akan disuguhi pemandangan matahari terbenam dari atas perahu. Hmm, kebayang, sih, City Palace dan kota Udaipur yang serba putih diterpa sisa-sisa cahaya matahari yang berwarna oranye. Pasti indah sekali. Tapi, kami punya rencana lain untuk menikmati sunset hari ini. Yaitu menuju ke Monsoon Palace. Istana yang berada di puncak bukit, menghadap ke arah danau Fateh Sagar. Jaraknya cukup jauh, mungkin ditempuh sekitar setengah jam. Hanya saja kami masih ragu, apakah tuktuk mau diajak ke sana dengan harga terjangkau. Hehe. Well, lebih penting dari itu, kami harus makan siang karena benar-benar sudah kelaparan.

Kami menyewa tuktuk menuju food court di pinggir danau Fateh Sagar. Letaknya berada di luar pemukiman old city, tempat kami tinggal. Dari situ, pengunjung juga bisa menyewa perahu untuk menuju ke Nehru Garden. Taman yang dibuat khusus di atas danau sebagai rekreasi keluarga.

Food court di sini membuat kami bingung menentukan makanan. Kami berkeliling terlebih dahulu untuk pilih-pilih kedai yang kira-kira enak dan unik. Pilihan jatuh pada kedai yang menyajikan makanan khas India, di kedai yang paling ramai pengunjung. Karena kedai yang ramai biasanya pasti enak, bukan, begitu? Hampir semua meja telah penuh oleh pengunjung. Untunglah, ada rombongan yang pergi jadi kami bisa langsung masuk menggantikan meja tersebut.

Kami memesan menu-menu yang berbeda biar bisa gantian menyicipi. Enaknya pergi kulineran bareng teman-teman itu begini! Bisa saling berbagi. Hehe.

Sambil mencerna makanan yang sudah masuk ke perut masing-masing, kami memandangi danau Fateh Sagar dan juga Nehru Garden. Angin sepoi-sepoi datang bersamaan mendung. Yah, akankah lagi-lagi hari ini akan turun hujan? Kami menimbang-nimbang untuk membatalkan ke Monsoon Palace karena jarak yang cukup jauh dan prakiraan cuaca berdasarkan insting kami. Namun, karena masih ingin nongkrong-nongkrong, kami mencari alternatif lain menikmati sore hari.

Memandangi Nehru Garden. (Maafkan bokongku, hahaha)

Kami sempat melihat ada gondola di sekitar loket Pichola Boating. Ternyata dekat dari situ memang terdapat spot untuk naik gondola. Yaitu, Mansapurna Karni Mata Ropeway. Kami memutuskan untuk menikmati sore hari di atas bukit. Setidaknya jika turun hujan, kami masih bisa langsung pulang ke hostel dengan mudah karena dekat.

Dengan mengkocek Rs 300 perorang (untuk turis asing), kami berempat mengantri naik Gondola. Sempat was-was melihat kondisi gondola yang sudah tua dan seperti agak kurang perawatan. Tapi, ya sudahlah, Bismillah saja! Hehe.

Pemandangan di atas bukit Machhala ini ternyata cukup menakjubkan! Kami bisa melihat pemandangan danau Pichola dan kota Udaipur. Monsoon Palace juga terlihat berdiri di kejauhan. Langit hari itu agak labil. Kadang cerah, tapi kadang awan mendung lewat. Pelan-pelan semburat oranye mulai muncul dari balik awan, namun bulatnya matahari tidak terlihat karena bersembunyi di awan mendung. Lampu-lampu kota mulai menyala seperti kunang-kunang di kejauhan. Tiba-tiba seketika, awan mendung datang bergerombolan, menyerbu Udaipur dengan titik-titik hujan. Aih, datang juga akhirnya. Cepat-cepat kami kembali turun dan pulang ke hostel. Untunglah, kami tidak terlalu kebasahan di jalan. Malam itu, Udaipur, kota yang hangat menjadi dingin.

Day 2. Keliling Old Town

Hari ini adalah hari bebas kami masing-masing. Aku dan Novie memilih untuk keliling pasar melihat-lihat sesuatu untuk dibeli sebagai oleh-oleh. Setelah bersiap-siap dan sarapan, kami berdua semangat menelusuri kios-kios di sepanjang jalan.

Hal menarik yang kami jumpai di sini adalah, banyaknya toko-toko buku. Ya, India terkenal dengan harga buku-buku yang sangat murah. Walaupun beberapa buku menarik perhatianku, tapi aku sudah tidak sanggup lagi jika harus membawa tambahan beban di ransel.

Selain toko-toko buku, juga banyak toko-toko khusus untuk kartu pos. Udaipu terkenal dengan lukisan-lukisan khas kerajaan Mewar. Para seniman lokal, bahkan murid-murid sekolah sering berpartisipasi untuk membuat kartu pos lukisan yang dijual kepada turis-turis. Aku dan Novie memilih beberapa kartu pos untuk dikirimkan kepada teman-teman di Jakarta. Juga untuk kami sendiri!

Kami juga mampir ke toko-toko pernak-pernik perhiasan, karena aku tertarik untuk membeli anting-anting. Hehe. Aku suka sekali dengan model-model anting India, walaupun kemungkinan besar aku akan jarang memakai anting-anting tersebut di Indonesia, tapi boleh saja untuk kenang-kenangan, kan? Sedangkan Novie membeli kalung untuk oleh-oleh ibunya.

Alternatif lain, banyak juga yang membuat kreatifitas dari kulit. Seperti tas, ikat pinggang, dan buku dengan sampul dari kulit. Aku pun membeli buku catatan kecil dengan harga yang sangat murah, 20 Rupe! Lalu ada juga kain hiasan dinding dengan motif Surya atau Matahari.

Aku mengenal Udaipur pertama kali pada sebuah film India yang aku tonton, berjudul Dhadak. Kalian harus nonton filmnya! Ada beberapa lokasi shooting yang ingin aku datangi, jadi kami lanjut berkeliling mencari lokasi tersebut. Suasana old city sangat nyaman bagi pejalan kaki, gangnya hanya dilewati satu arah dan tidak boleh ada mobil yang melintas kecuali tuktuk. Dan…. kami menemukannya! Aku senang banget, hehe. Karena tempatnya bagus untuk nongkrong, jadi kami memanggil Harvin dan Miguel untuk datang menyusul.

Kami menghabiskan siang itu di pinggir danau Pichola dengan angin sepoi-sepoi. Hingga perut mulai bernyanyi tanda lapar. Lalu, kami mulai meninggalkan tempat itu dan mencari restoran di sekitar. Mengingat uang yang makin menipis, kami tidak memilih makan di restoran mewah, jadi kami mendatangi sebuah tempat makan kecil bernama Queen Cafe yang dikelola oleh sepasang kakek-nenek. Tempatnya agak gelap, dan sedikit kotor. Tapi di luar dugaan makanannya semuanya sangat enak! Apalagi minuman Lashi-nya sangat aku rekomendasikan!

Setelah makan, kami berjalan-jalan ke daerah pasar mencari kantor pos untuk mengirimkan kartu pos ke teman-teman. Di jalan, kami mejumpai sebuah warung gorengan yang kelihatannya bersih dan enak. Jadi, kami membeli untuk cemilan sore. (Padahal baru makan).

Di sekitar kami tinggal kebetulan dekat dengan Bagore Ki Haveli, sebuah museum seni. Kami baru tahu kalau setiap malam diadakan traditional dance show. Kami berencana pergi malam itu untuk melihat show sebelum pergi meninggalkan Udaipur tengah malam nanti. Karena dekat dari hostel, jadi kami santai dan berniat menuju loket pada pukul 6 sore, satu jam sebelum show dimulai. Tapi ternyata, di sana sudah sangat panjang antrean. Bahkan tiket yang dijual malam itu pun, bukan penjualan tiket untuk malam itu, namun untuk show besok. Hahaha. Kecewa, sih, tapi apa boleh buat. Setidaknya kami sudah pernah melihat tarian tradisional Rajasthan di Jaisalmer. Malam itu pun kami kembali nongkrong di pinggir danau sambil makan jagung bakar. Menikmati malam terakhir di kota romantis ini.

Pukul 9.30 malam, kami menuju stasiun Udaipur untuk menuju kota terakhir, Jaipur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *