Jodhpur, Rajasthan Trip (India – Part 2)

They called me, “The Blue City” and “The Sun City.”

Dinginnya malam kota Jaisalmer menembus kulit, menusuk hingga ke tulang-tulang, memaksa menerobos ke relung jiwa. Tapi tak kami hiraukan, di dalam tuktuk, kami berempat duduk berdesak-desakan, saling menghangatkan satu sama lain, sementara sopir tuktuk kami memberontak, melajukan tuktuk dengan kecepatan, memecah angin malam. Bukan karena mengejar waktu seperti kami, warga Jakarta yang seringnya tidak bisa memperkirakan waktu karena padatnya kendaraan dimanapun. Tapi, beginilah sopir India, setidaknya begitulah sopir-sopir yang telah kami sewa jasanya selama 3 hari ini. “4 hal yang harus kau kuasai saat menyetir di India, good skill, good brakes, good horns, and good luck.“, begitulah tutur Mr. Harry, sopir kami ketika di Jaisalmer yang berasal dari New Delhi. Yah, pedoman masuk akal yang harus dipegang saat menyetir di India.

Kereta kami akan berangkat pukul 00.55 dini hari. Pertama kalinya, kami akan naik kereta India. Suasana stasiun Jaisalmer lumayan ramai. Banyak orang-orang yang duduk-duduk di teras stasiun dengan bertumpukan selimut-selimut atau memakai baju berlapis-lapis. Seorang ibu paruh baya dengan saree warna hijau dibalik sweater coklat tua, tengah memeluk bayinya yang terlelap dipinggiran pintu masuk. Entah, mereka ini memang calon penumpang ataukah homeless? Aku pernah membaca buku biografi PK Mahanandia, seorang seniman yang lahir di hutan India, dan mendapatkan beasiswa sekolah seni di Delhi. Dia seringkali tidur di stasiun saat menjadi homeless karena uang beasiswa yang tiba-tiba berhenti disalurkan. Apakah ini suatu hal yang common di India?

Kami masih menyesuikan diri dengan suasana stasiun, mengamati sekitar sembari mencari-cari peron kereta kami. Saat kami berdiri memeriksa layar elektrik yang menggantung di tengah-tengah peron, seorang bapak paruh baya datang dan menanyakan perihal tujuan dan tiket kami. Beliau mengaku sebagai petugas stasiun. Harvin, sepertinya mencurigai beliau tapi ia tetap mengikuti arahan si bapak, kamipun mengikuti. Dugaan kami, layar elektrik yang menggantung tersebut menunjukkan kode peron dan kode kereta yang tengah parkir. Tidak sulit untuk menemukannya sendiri tanpa bantuan si bapak, tapi kami tetap mengikuti langkah beliau yang sudah berjalan cepat di depan. Setibanya di depan gerbong kami, beliau tanpa babibu langsung meminta uang tip. Langsung saja, Harvin ngegas, lalu mengusirnya. Itulah spam perdana kami.

Keadaan sleeper train yang kami pilih adalah kelas terbagus, dengan satu kompartemen terdiri dari 4 kasur susun dua tingkat, masing-masing kompartemen juga dilengkapi dengan tirai. Aku dan Novie, memilih untuk tidur di atas, walaupun sulit bagi kami naik ke kasur atas, tapi kami rasa sebagai wanita akan lebih aman jika kami tidur di situ. Kami banyak mendengar tentang kriminalitas di kereta India, tapi kami merasa aman di gerbong ini, mungkin karena berada di kelas terbaik, hanya saja dinginnya musim dingin India tetap menembus dinding slab alumunium gerbong, tidak ada penghangat di dalam. Aku membalurkan minyak kutus-kutus yang setengahnya telah membeku karena suhu rendah.

Masih cukup waktu sebelum kereta berangkat, kami tengah membicarakan rencana destinasi selanjutnya ketika seorang kondektur kereta tengah membagikan beberapa paper bag yang ternyata berisi seprai untuk alas tidur, selimut, serta bantal yang bersih.

Tiket kami menunjukkan akan tiba di kota Jodhpur pukul 6.25 pagi, tak ingin kebablasan, kami memasang alarm pukul 6, lalu bersiap tidur. Aku yang tidak kuat dingin, meringkuk di dalam selimut dan mencoba memejamkan mata setelah beberapa kali pergi ke toilet untuk buang air kecil. Dasar, makhluk tropis, cuaca dingin membuatku beser.

———-

Sampailah kami di stasiun Jodhpur, tepat seperti estimasi yang tertera pada tiket. Mengejutkan, karena dari apa yang kami dengar, kereta-kereta India seringkali terlambat.

Saat itu matahari belum menampakkan diri, baru tinggal beberapa hari di negara bergurun ini, hangatnya matahari sangat dirindukan. Kami lalu menyewa tuktuk yang banyak parkir di depan stasiun. Tarif tuktuk di kota ini ternyata lebih mahal daripada Jaisalmer. Mungkin karena kota ini lebih maju. Kali ini kami akan menginap di Hostel La Vie yang jaraknya tidak begitu jauh dari stasiun. Dalam perjalanan, kami melewati Clock Tower yang berdiri di tengah sepinya pasar yang masih tertidur, salah satu ikon kota ini.

Tiba di hostel, untungnya, penjaga sudah siaga, walaupun belum waktunya check-in, beliau menganjurkan untuk beristirahat di rooftop. Terhenyaklah kami saat tiba di rooftop. Bagaimana tidak, mata kami langsung disuguhi pemandangan Mehrangarh Fort yang berdiri megah tepat di depan mata. Begitu dekaaat. Di sisi lain, di sebelah timur, matahari mulai menampakkan diri di samping Umaid Bhawan Palace. Kantuk mendadak hilang, udara dingin perlahan menguap. Kami menyenderkan tubuh pada tembok yang lembab karena embun, menikmati semburat oranye dari matahari yang perlahan menampakkan wajahnya. Akhirnya, tembok-tembok dan atap-atap rumah berwarna biru pun terlihat, menyatu dengan warna biru langit yang mulai terang. Welcome to the Blue City.

Di rooftop hostel kami ini, juga merupakan cafe. Tentu saja masih terlalu pagi untuk chef memasak, bahkan belum ada siapaun di rooftop. Dingin yang tengah menguap rasanya merasuk kembali, bersembunyi ke bawah lapisan kulit, menegakkan bulu-bulu tangan. Dengan lapar melanda, kami masuk ke ruang santai di rooftop. Ada beberapa kursi, namun ada juga busa untuk lesehan. Kami memanfaatkannya untuk tidur sejenak.

———-

Day 1. Mehrangarh Fort, keliling blue city dan menikmati sunset di Pachatiya Hill

Tentunya destinasi utama kami adalah apa yang sudah di depan mata, yaitu Mehrangarh Fort. Cukup berjalan kaki dengan bermodalkan google maps yang dipandu oleh Novie. Hanya dia yang bisa mengakses internet. Rencananya kami ingin membeli kartu SIM di Jaisalmer, namun ternyata butuh beberapa hari untuk aktivasi sebelum digunakan. Percuma membeli bagi kami yang hanya kurang dari 10 hari di India. Untungnya, Novie membeli paket roaming saat di Indonesia. Lain kali, kami akan menyewa pocket wifi saja.

Semakin mendekati kastil, semakin menanjak jalan yang kami lalui. Di kanan kiri sepanjang jalan, rumah-rumah berwarna biru. Kontras dengan Mehrangarh yang berwarna coklat kemerahan. Memasuki jalan setapak kastil, kami menjumpai tupai-tupai ataupun burung elang yang melayang-layang di atas bukit. Kami menanjak semakin tinggi, kota berwarna biru semakin meluas di mata kami.

Berbeda dengan Jaisalmer Fort, Mehrangarh Fort ini dikelola dengan sangat baik. Dari awal gerbang dan lingkungannya, termasuk toiletnya pun bersih sekali. Mungkin karena memang dikelola sebagai museum. Ada audio guide dalam berbagai bahasa, jadi bisa berkeliling sendiri dengan bebas tanpa dibebani oleh waktu ataupun rombongan. Kami pun, sibuk berjalan masing-masing mengikuti panduan dari audio.

Berkeliling Mehrangarh Fort yang sangat luas hingga lupa waktu membuat kami kehabisan tenaga. Matahari sudah tinggi, langit hari itu sangat cerah. Kami yakin sunset hari ini akan indah. Kami memutuskan keluar kastil dan makan siang di Jhankar Choti Haveli restaurant, sebuah restoran rekomendasi dari TripAdvisor yang ternyata lokasinya hanya di gang sebelah hostel kami. Jangan tanya kami, bagaimana rasanya. Kami sangat suka masakan India!

Sorenya, Harvin keukeuh ingin melihat sunset di Pachatiya Hill. Tempat ini sempat viral di media sosial sebagai hidden gems di Jodhpur. Lagi-lagi google maps Novie menjadi andalan kami mencari rute. Aku menikmati suasana jalanan di lingkungan ini. Jalannya berupa gang-gang kecil yang hanya muat untuk dilewati satu mobil saja. Hostel kami terletak di dekat pasar dan termasuk lingkungan turis. Di pasar, kami mengelilingi pedagang-pedagang tekstil, pernak-pernik, dan juga spices (bumbu-bumbu dapur) India. Jika kalian ingin membeli chai masala, bumbu kare, saffron dll, di Jodhpur lah tempatya.

Jalan yang kami lalui semakin sempit ketika mendekati daerah yang lebih tinggi. Membuat kami bingung akan arahan peta. Kami rasa, kami telah salah jalan. Untung saja, masyarakat sekitar baik-baik, mungkin mereka juga sudah terbiasa dengan keberadaan turis yang sering nyasar di gang-gang kampung mereka. Seorang bapak-bapak yang tengah duduk di samping jendela rumahnya, dengan perawakan badan yang kurus dan kumis khas Rajasthan, tetiba memanggil kami dan mengarahkan jalan tanpa kami perlu menjelaskan tujuan.

Kami pun akhirnya menjumpai tanjakan menuju bukit tersebut. Bukit yang sama di mana Mehrangarh Fort berdiri di tanah berstruktur bebatuan. Trekking kedua kami hari ini, entah sudah berapa ratus atau bahkan ribu kami melangkah, tapi kaki kami terus memaksa berjalan, mendaki tangga-tangga menuju bukit, arah tangga itu menjauhi kastil yang selalu diam di tempatnya. “Kwiiiik… kwiiiiik….” suara seekor Elang yang terbang di atas kepala kami, seakan menyemangati.

Di puncak, kami menjumpai sebuah kuil. Sepanjang jalan tidak ada siapapun selain kami, sepertinya jam sunset memang masih agak lama. Kami belum menemukan spot yang dimaksud. Ada sebuah tempat di depan kuil yang kami kurang tahu itu apa, ada pipa-pipa besar di pinggiran dan perlu melewati sebuah gerbang untuk masuk. Gerbang tersebut ditutup dan dikunci. Kami mengintip-intip, sepertinya spot yang kami tuju ada di dalam tempat itu. Kami memutuskan mengunjungi kuil sejenak, sampai kami menjumpai beberapa turis yang mulai berdatangan.

Kami akhirnya bergabung dengan beberapa turis Eropa untuk menikmati sunset di sisi lain. Di sebuah lahan kosong bekas bangunan rumah yang diruntuhkan. Tepat di bawahnya, rumah-rumah berwarna biru berjejeran padat. Kami mendapatkan sunset terbaik. Kami duduk hingga angin malam mulai menyusupi celah rumah-rumah dan menampar wajah kami. Baik, saatnya pulang dan makan malam! Cuaca dingin selalu membuat kami lapar.

Kami memutuskan untuk makan di cafe hostel, tapi sebelumnya kami membeli snack India, Shahi Samosa yang ada di pasar. Tempat ini cukup terkenal dan laris manis, antrian yang panjang memenuhi kaunter. Semua orang ingin segera menggigit Samosa yang hangat dan pedas di malam dingin ini. Tentunya, Chai adalah pendamping yang tepat.

“Suhu dingin, hari melelahkan, tentu saja sebotol bir adalah penutup paling tepat!”, ternyata Harvin berpendapat lain.

———-

Day 2. Jodhpur Stepwell (Toorji Ka Jhalra Bavdi), Jaswant Thada, Mandore Garden, Belanja di Pasar

Pagi kami di Jodhpur selalu cerah, tidak seperti di Jaisalmer yang disambut hujan. Rasanya tidak salah kalau kota ini juga mendapatkan julukan the sun city.

Sebelum melanjutkan tour, kami menyempatkan diri untuk berkemas karena akan check-out nanti sore. Seusainya, tidak lupa kami mengisi tenaga dahulu dengan sarapan di rooftop. Aku jatuh cinta dengan susu India. Kapanpun ada kesempatan, aku selalu memesan susu hangat, ataupun chai, selain karena aku pecinta susu, tentu saja karena harga segelas susu di sini murah. Seandainya di Jakarta, setiap hari bisa minum susu segar seperti ini…

Destinasi pertama kami adalah Stepwell. Lokasinya tidak jauh dari hostel, hanya berjarak 100 meter dari restoran makan siang kemarin. Ada beberapa stepwell di India yang terkenal, salah satunya adalah di Jodhpur. Stepwell ini adalah seperti kolam air besar yang dulunya berfungsi sebagai irigasi. Level airnya ditunjukkan dari tangga-tangga yang semakin turun ke bawah hingga ke dasar kolam.

Karena kami datang pagi-pagi, jadi masih sepi pengunjung. Hanya kami saja yang datang sebagai turis dan beberapa sopir tuktuk yang sedang ngetem.

Kemudian kami lanjut ke destinasi berikutnya dengan naik salah satu tuktuk yang ngetem tadi, yaitu Jaswant Thada. Jaswant Thada ini dikenal juga sebagai Taj Mahal-nya Jodhpur. Memorial park ini memiliki bangunan berwarna putih yang didirikan dari marbel. Lingkungan di sini pun, sangat bersih dan rapi, serta tidak ada nuansa seram sama sekali walaupun ini “makam”. Arsitektur India, baik yang berupa situs budaya maupun rumah-rumah biasa selalu membuat kami berdecak.

Suasana Jaswant Thada yang syahdu, membuat kami betah. Tapi, kami juga harus mengejar destinasi berikutnya, yaitu Mandore Garden, jaraknya cukup jauh, mungkin sekitar 9 km terletak di luar kawasan blue city. Tidak ada informasi apapun mengenai taman ini, jadi kami hanya tahu sedikit informasi melalui tautan-tautan di internet. Kalau dilihat dari jauh, monumen-monumennya seperti candi Prambanan, tapi dengan nuansa warna merah bata. Di sudut taman, terdapat sebuah kuil yang saat itu banyak pengunjung berdoa. Suasana di sini, cukup nyaman bagi keluarga yang ingin piknik-piknik, karena tersedia area hijau. Hanya saja perlu hati-hati karena ada beberapa monyet yang suka berkeliaran.

Selama kurang lebih satu jam kami berkeliling, teriknya matahari telah menghabiskan persediaan air yang kami bawa.

Siang itu, kami memilih restoran Indigo sebagai tempat makan siang atas rekomendasi resepsionis hostel kami. Kami langsung suka dengan suasana restoran tersebut yang ternyata juga merupakan sebuah hostel. Restorannya terletak di atap hostel, dan juga menghadap ke Mehrangarh. Kami senang sekali, tidak bosan-bosan dengan pemandangan ini. Siang itu kami menghindari kare, bukan karena bosan, tapi Nasi Biryani di sini sangat direkomendasikan. Porsi dan daging lamb dengan potongan-potongan jumbonya sangat empuk. Rasanya juga juara. Ah, kami begitu tergila-gila dengan semua masakan India yang kaya akan bumbu-bumbu.

Tentu saja, dengan perut yang menggembung, kami seperti baterai yang berisi penuh. Aku dan Novie sudah sangat tidak sabar ingin belanja di pasar. Kami jatuh cinta dengan dress dengan patern Indigo yang banyak didisplay di toko-toko baju di pasar. Kami tidak menjumpai patern ini di Jaisalmer, sehingga aku membeli baju itu karena takut tidak akan menjumpainya di kota-kota lain. Sepertinya setiap kota memiliki cinderamata khas masing-masing.

Kami juga mampir ke toko M.V Spices, toko spices atas rekomendasi Harry, sopir kami di Jaisalmer. Pertama kali datang, kami langsung ditawarkan sampel minuman. Dibuatkan langsung di toko, dan bebas ingin mencoba minuman apa. Karena aku ingin membeli racikan chai masala, jadi aku minta dibuatkan segelas chai. Ada juga teh-teh lain seperti teh saffron, dll.

Kami kembali ke hostel dengan tangan kanan-kiri penuh tentengan. Baru dua kota kami jelajahi, tapi tas kami sudah penuh. Aku rasa, aku perlu mengulang susunan backpack-ku dengan tambahan belanjaan ini.

Sore hari, kami menunggu mobil carteran dari Gozocabs yang akan mengantar kami ke kota selanjutnya, Udaipur. Kota yang dikenal sebagai kota romantis. Dua kota yang telah kami kunjungi, mempunyai kesan yang berbeda-beda. Lalu, bagaimanakah dengan Udaipur? Kami tidak sabar menanti.

You Might Also Like

Leave a Reply