Home » Jaisalmer, Rajasthan Trip (India – Part 1)

Jaisalmer, Rajasthan Trip (India – Part 1)

Aku tumbuh dalam keluarga yang hobi nonton film Bollywood. Sebutlah, nama-nama artis Bollywood, Shah Rukh Khan, Kajol, Rani Mukerji, Preity Zinta, Karina Kapoor, Amir Khan, Salman Khan, dan lain-lain, maka aku tahu film-film yang mereka mainkan. Juga, melalui film-film Bollywood, aku selalu saja terkesima dengan landscape India, terutama India bagian utara (walaupun tak jarang yang mengambil lokasi shooting di Eropa atau Amerika, sih). Namun, kala itu tak pernah terbersit olehku untuk bisa menginjakkan kaki di negeri ini. Hingga suatu hari, sebuah pesan dari Harvin mengajakku pergi ke India bersama. Secara impulsif, aku pun langsung membalas tanpa ragu, “AYO!”.

Tidak hanya bersama Harvin, perjalanan kali ini Novie dan Miguel juga turut serta. Harvin sebagai seorang senior dalam traveler, menjadi team leader kami. Dan sebagai sesama Virgo, aku tentunya percaya dengan semua agenda yang sudah ia persiapkan. Hehe.

Di India, tujuan kami adalah ke beberapa kota di Rajasthan dengan rute, yaitu Jaipur – Jaisalmer – Jodhpur – Udaipur – Jaipur. Kami menggunakan maskapai AirAsia yang beberapa tahun terakhir memang membuka rute baru Kuala Lumpur – Jaipur dengan rate yang ramah bagi backpacker seperti kami. Tiket dibeli pada bulan Februari 2019, untuk keberangkatan Januari 2020. Beginilah tips jika ingin mendapatkan tiket pesawat dengan harga terjangkau, belinya harus jauh-jauh hari!

Kami keliling cukup jauh, ya. Dari ujung ke ujung!

KURS Januari 2020, INR 1 = IDR 210. Perbedaan waktu adalah 1,5 jam lebih lambat dari WIB.

—————

Day 1. Road trip menuju kota Jaisalmer

India, merupakan negara yang memiliki musim dingin, bahkan di India bagian utara akan selalu bersalju saat musim ini. Kami sengaja memilih bulan Januari karena masih termasuk musim dingin. Hanya saja, kami tidak mengira suhu yang benar-benar drop hingga 5 derajat Celcius! Kami kira hanya sedingin seperti di Puncak Bogor! Hahaha. Alhasil, kami berempat semuanya salah kostum, jaket tipis yang kami bawa tidak berhasil menghangatkan tubuh kami sejak menginjakkan kaki di bandara Jaipur.

Hembusan angin malam langsung menampar wajah kami begitu keluar dari pintu bandara. Harvin yang bertugas mengkordinir transportasi mencoba menghubungi sopir yang kami sewa dari KLOOK. Sembari menunggu sopir datang, kami menarik uang tunai terlebih dahulu di ATM SBI (State Bank of India) yang ada di samping pintu keluar terminal.

Suasana di depan terminal Bandara Jaipur.
  • Tips : Sebaiknya menarik uang tunai selama perjalanan di sini, untuk menghindari mencari ATM di kota-kota berikutnya. Sepengalaman kami, ada beberapa ATM dari Bank lain yang tidak bisa tarik tunai dengan kartu ATM Indonesia. Bahkan, Bank-bank Indonesia juga tidak semua bisa tarik tunai di ATM SBI ini. Aku sendiri menggunakan kartu Jenius, ratenya tergolong bagus dan lancar dipakai.

Kami menunggu sopir KLOOK cukup lama, karena admin yang susah dihubungi. Ternyata, nomor yang kami dapat bukanlah nomor langsung dari si sopir yang akan mengantarkan kami ke Jaisalmer. Susahnya lagi, ternyata sopir kami tidak bisa bahasa Inggris. Bahkan ketika di Jaisalmer, dia tidak tahu jalan menuju hostel, terpaksalah kami yang menuntun jalan melalui arahan Google Maps.

Kami memilih langsung ke Jaisalmer untuk menghemat biaya penginapan. Jarak dari kota Jaipur ke Jaisalmer sendiri hampir 650 km, dengan lama perjalanan hinga 12 jam, tergantung kecepatan berapa lama berhenti untuk istirahat tentunya. Akhirnya kami menemukan mobil Avanza putih yang akan membawa kami malam itu. Di kaca belakang, tertulis nama DEV, mungkin nama si sopir? Entahlah, kami tidak berkenalan sama sekali dengannya. Di bawah bampers belakang, tergantung hiasan bulu khas Hindu berwarna hitam. Plat nomor dengan awalan huruf RJ merupakan kode kendaraan di Rajasthan. Cepat-cepat kami meletakkan tas kami ke bagasi dan masuk ke mobil. Kami berharap mobil ini punya pemanas.

Bohong jika ku katakan bahwa kami menikmati perjalanan kami malam itu. Harvin, Novie dan aku duduk di jok belakang, sedangkan Miguel di samping sopir. Duduk berdempetan di belakang ternyata tidak cukup untuk saling menghangatkan diri. Diam-diam aku menarik selimut milik si sopir dari bagasi, yang aku lihat saat meletakkan tas. Walaupun agak bau apek, tapi siapa peduli!

Sepanjang perjalanan tidak ada basa-basi yang keluar dari mulut si sopir, malahan dia sibuk sendiri dengan teleponan sepanjang jalan, kadang-kadang diselingi lagu-lagu yang asing ditelinga kami. Harvin yang selalu terganggu dengan suara saat tidur, segera komplain untuk mengecilkan suara. Lalu Miguel yang sepertinya tidak bisa tidur, terlihat beberapa kali mengajaknya mengobrol, berniat menemani laiknya co-pilot, mungkin karena keterbatasan bahasa juga, Dev terlihat tidak tertarik. Ia lebih tertarik berbicara dengan lawannya di telepon, yang kami kira, ia sedang membicarakan kami dan betapa sialnya dia harus mengantar jauh-jauh ke Jaisalmer! Namun, aku rasa itu semua agar dia tetap terjaga sepanjang perjalanan. Kami tidak bisa menyalahkan, walaupun tahu bahaya menelepon saat menyetir, sopir yang mengantuk akan lebih berbahaya.

Sepertinya sudah 5 atau 6 jam kami melaju, saat itu memang menjelang subuh. Dev memarkirkan mobil ke sebuah warung, satu-satunya di sepanjang jalan itu. Tanpa berkata apapun kepada kami, ia membuka bagasi dan terlihat mencari-cari sesuatu. Sepertinya ia mencari selimutnya, jadi langsung aku kembalikan. Hehe. Lalu ia berjalan dengan diam menuju warung, memesan sebuah chai pada seseorang yang tengah duduk di depan api unggun. Meminumnya, lalu bergegas meringkuk di atas charpai, dipan tradisional India yang alasnya terbuat dari anyaman. Tentu saja, tidak lupa ia membenamkan diri dalam selimutnya, ah, kini aku yang kedinginan lagi.

Kami berempat tidur di dalam mobil selama hampir setengah jam. “Berangkat kapan lagi, nih? Takut kesiangan sampai di Jaisalmer.” Harvin bersuara membangunkan kami semua yang tengah tidur ayam-ayaman. Walaupun benar kata Harvin, tapi terlalu beresiko juga jika memaksa si sopir untuk terus lanjut dalam kondisi mengantuk. Akhirnya kami semua memutuskan keluar untuk pinjam toilet dan memesan chai. Kami duduk di depan api unggun agar tetap hangat.

Harvin akhirnya membangunkan Dev setelah memberinya satu jam beristirahat. Menjelang matahari terbit, langit yang gelap mulai menampakkan semburat cahaya. Pemandangan kanan-kiri yang tidak bisa kami lihat sebelumnya, kini mulai nampak. Hanya dataran-dataran gersang sepanjang jalan, dengan pohon-pohon gurun. Uniknya, sepanjang jalan seperti berada di safari! Kami sering menjumpai merak liar di pinggir jalan, domba, anjing, dan tentunya sapi. Sesekali akan tampak ladang bunga mustar yang berwarna kuning. Daun-daunnya yang hijau bagaikan oasis. Sayang, aku tidak bisa mengabadikan ladang mustar karena laju kendaraan yang cepat.

—————

Day 2. Kuldhara Village & Thar Desert Safari

Akhirnya kami tiba di hostel yang telah dipesan sebelumnya melalui Booking.com. Ternyata hostel kami, Jaisalmer Hostel Crowd dikelola oleh teman dari seorang travel influencer, @Backpackertampan. Rencananya kami akan menginap selama 2 hari ke depan, hanya saja pada hari terakhir kami tidak akan menginap, karena kami memesan tiket kereta ke jodhpur dengan jam keberangkatan tengah malam. Tidak mungkin rasanya menumpang di hostel sembari menunggu jadwal kereta, jadi kami putuskan untuk menyewa kamar selama 2 malam.

Sudah menjelang siang saat kami sampai, dan perut kami tengah dilanda kelaparan. Terakhir kami makan malam di dalam pesawat dan tidak sarapan sama sekali. Hanya bisa makan Beng-beng yang aku bawa untuk bekal cemilan. Setelah berhasil melakukan prosedur check-in, kami memesan makan siang.

Staff hostel sangat ramah-ramah, kami bahkan dipinjami jaket dan syal karena terlihat mengenaskan. Hahaha.

Daal, semacam kacang lentil yang dimasak menjadi seperti nasi. Disajikan hanya dengan garam dan salad tomat & bawang saja, tapi rasanya sangat enak, sampai nambah-nambah.

Walaupun masih mengantuk usai perjalanan panjang, serta perut yang kini membuncit setelah puas makan Daal, kami harus bersiap-siap untuk mengikuti tur di gurun. Jaisalmer, kota paling barat di India yang berbatasan langsung dengan Pakistan ini, terkenal dengan wisata gurunnya. Jaisalmer juga dikenal dengan The Golden City, lantaran bangunan arsitekturnya dibangun dengan batu pasir kuning, dan berdiri di tanah gurun. Sebutan yang sangat pas!

Kami mengikuti tur yang dikelola melalui hostel. Dari hostel kami diantar oleh seorang sopir dari New Delhi. Harry, namanya, hobinya yang sekaligus menjadi pekerjaannya adalah keliling India sebagai sopir. Bayangkan saja, dari New Delhi sekarang dia ada di Jaisalmer untuk mengantarkan turis-turis, termasuk kami, berkeliling kota gurun ini. Berbeda dengan Dev, Harry adalah tipikal sopir India yang biasa aku lihat di film-film. Ramah, suka mengobrol dan suka bercanda! Dari Harry, kami belajar prinsip sopir India. Good horns, good brakes, good skill, and good luck. Tidak heran jika para pengendara di India, sangat percaya diri di jalanan.

Pukul 2 siang, dan Harry telah menunggu di depan hostel. Sebelum menuju lokasi desert safari tour, Harry mengejak kami mengunjungi desa Kuldhara yang dikenal sebagai desa berhantu. Situs ini merupakan sisa bangunan terbengkalai pada awal abad 19. Kemungkinan ditinggalkan karena krisis air, namun studi baru-baru ini juga mengatakan kemungkinan terbengkalai karena terjadinya gempa. Masyarakat sekitar sendiri mempercayai adanya legenda yang menyebabkan situs reruntuhan ini berhantu.

Tidak banyak yang bisa dilihat di sini selain beberapa rumah dan kuil yang masih utuh, lainnya sudah ambruk seperti pada foto kami di bawah. Walaupun siang-siang, tapi cuaca tidak terik dan suhu semakin dingin. Banyak warga sekitar yang mengunjungi situs ini untuk sekedar duduk-duduk nongkrong, sedangkan sisanya adalah beberapa turis asing seperti kami. Konon, hingga sekarang pun warga masih percaya bahwa tempat ini berhantu, sehingga tidak akan ada orang lagi usai matahari tenggelam. Padahal, sih, memang sudah waktunya ditutup saja, bukan? Hahaha.

  • Kuldhara Village, salah satu legendanya adalah kisah seorang putri dari kepala desa akan dilamar oleh Salim Singh, seorang administratif pajak, yang mengancam akan memberikan pajak lebih tinggi jika menolak lamaran. Dengan deadline 24 jam untuk menerima lamaran tersebut, para penduduk memilih meninggalkan Kuldhara tanpa diketahui oleh siapapun dan mengutuk desa itu, siapapun yang tinggal di desa Kuldhara setelah kepergian mereka, maka akan meninggal atau terkena bencana. Begitulah, mengapa desa itu masih tidak berpenghuni hingga sekarang.

Pantas saja kami tidak merasakan terik matahari, padahal katanya panasnya gurun itu sesuatu sekali, ternyata langit berawan, beginilah kondisi saat musim dingin di gurun, jangan remehkan angin, suhu, juga langit yang senang didatangi awan. “Maybe you can not see sunset, it’s gloomy.“, ujar Harry. “But still you can enjoy your camel riding, right!“, hiburnya. Sampai di camp point, kami disuguhi chai dan cemilan kerupuk serta kacang-kacangan sembari menunggu camel guide.

Nah, siapakah yang sudah pernah menunggangi unta sebelumnya?

Ternyata, ya sama saja dengan naik kuda atau sebangsanya. Hehehe. Kami diantar berkeliling gurun dengan menunggangi unta. Unta-untanya sendiri dipandu oleh guide lokal. Rata-rata mereka sudah berumur, namun satu diantaranya masih muda. Ia masih bersekolah di SMA dan tiap sore mengantar turis berkeliling gurun.

Hari itu tidak cukup banyak turis, atau mungkin karena gurun yang luas, kami tidak sering bertemu turis lain. Aku pribadi baru pertama kali ke gurun pasir dan sensasinya cukup menyenangkan. Asal jangan sampai kena angin badai, saja.

Seusai menikmati sore di gurun pasir, kami kembali ke camp setelah matahari terbenam. Saatnya kami menikmati jamuan makan malam dan hiburan tari tradisional Rajasthan. Paket ini sudah termasuk dalam agenda tur, tapi kalau kalian hanya ingin menikmati trip gurun saja, tidak masalah. Bahkan mereka juga menyediakan camping di tengah gurun. Tidur di bawah langit, di atas pasir. Berani cobakah? Kami mau-mau saja mencoba, tapi karena waktu terbatas dan kemarin baru tidur di mobil, kami tidak mengambil kesempatan itu.

—————

Day 3. Jaisalmer Fort, Patwa Haveli, Gadisar Lake, Bada Bagh.

Saat jalan kaki, kami melewati sebuah Sekolah Dasar, dan mengajak murid-muridnya foto bareng.

Hari terakhir kami di Jaisalmer sudah dipenuhi oleh agenda yang disusun oleh Harvin dan ditinjau oleh Meera, host kami. Kata Meera, kami harus mengakhiri agenda kami dengan menikmati sore di Bada bagh. “I’m sure today will be good. The sun will come out, and Bada Bagh is the perfect place to enjoy sunset! Trust me. It is amazing place.”, kata Meera.

Kami memulai tujuan ke Jaisalmer Fort, ikon kota ini. Jaraknya dekat dari hostel, sehingga kami berjalan kaki, sekaligus pemanasan badan.

Jaisalmer Fort ini didirikan pada tahun 1156 oleh Raja Rawal Jaisal. Uniknya, Jaisalmer Fort adalah salah satu kastil yang masih dihuni oleh penduduk hingga sekarang. Di dunia ini hanya terdapat beberapa kastil yang dihuni oleh penduduk hingga sekarang. Jadi jika ingin mencoba sensasi tinggal di dalam kastil, bisa tinggal di hostel atau hotel yang banyak dikelola warga sebagai bisnis mereka. Selain itu juga banyak restoran-restoran yang menyajikan city view dari atas benteng. Jika ada kesempatan datang kemari lagi, aku pasti akan mencoba menginap di dalam kastil!

Jaisalmer Fort view dari Patwa Haveli. Kebayang kan, luasnya seperti apa?

Kami disambut dengan gerbang besar dan jalan yang sangat lebar saat masuk lingkungan kastil ini. Namun, makin lama jalanan makin berupa gang-gang kecil. Kami langsung menjumpai Jain Temple, salah satu tempat yang ingin kami kunjungi di sini. Sayangnya, kami datang terlalu pagi karena kuil tersebut sedang dipakai untuk bersembahyang. Waktu kunjungan turis akan mulai dibuka pada pukul 11. Kami memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu.

Kami menemukan tempat meriam di atas benteng, cukup sulit menemukan tempat ini lantaran berada di balik jalan setapak kecil yang sepertinya berada di halaman rumah penduduk. Sebagai sebuah kastil, aku rasa penduduk di dalam sini sudah terlalu padat.

Suasana kota kecil dibalik banteng ini, enaknya dikelilingi seharian. Tempatnya yang sangat luas, namun, minim papan arah, membuat kami berkeliling-keliling tidak jelas. Sayangnya, waktu kami terbatas karena sudah janjian dengan Meera untuk mengunjungi toko kainnya.

Meera mempunyai bisnis toko kain seperti selimut, pasmina, karpet, dll. Rata-rata motifnya dibuat handmade oleh wanita-wanita sekitar. Harganya juga beragam, ada yang terjangkau dan tentu ada yang mahal mengingat kualitas yang didapatkan. Tapi, kami hanya bisa melihat-lihat saja. Kaum single seperti kami, belum perlu beli kain pernak-pernik seperti ini. Hahaha. Kami hanya membeli selimut murahan yang kami pakai sebagai “jaket” karena tidak menemukan toko jaket di sekitar.

Usai mengunjungi toko Meera, dia berjanji mengajak kami ke Kothari Patwa Haveli yang juga terletak tak jauh dari tokonya. Tapi, ia melemparkan mandatnya kepada si adik, Kassam, agar menemani kami. Saat itu tokonya memang sedang kedatangan beberapa pengunjung.

Haveli artinya rumah. Tentunya bukan cuma rumah biasa, melainkan rumah besar atau mansion. Haveli di Jaisalmer ini terkenal karena tidak hanya berdiri satu rumah saja, tapi merupakan kompleks lima buah Haveli yang dibangun saling berdampingan. Arsitekturnya sangat detil hingga sudut-sudut terkecil, yang akan membuat siapapun terkagum-kagum. Rumah-rumah ini juga tinggi karena terdiri dari empat lantai.

Kassam menjelaskan kepada kami bahwa bangunan pertama didirikan pada awal tahun 1800an. Pemiliknya adalah seorang Patwa atau pedagang kain dan perhiasan yang sukses dengan lima anak. Oleh karenanya, ia membangun lima Haveli untuk anak-anaknya tinggal bersama keluarga masing-masing.

Saat ini, hanya satu Haveli yang masih ditinggali secara pribadi oleh keturunan Patwa tersebut, sedangkan empat bangunan lainnya dijual dan dimiliki oleh pemerintah. Tiga diantaranya dikelola sebagai museum dengan harga tiket beragam. Kami sendiri masuk dengan gratis berkat Kassam, tapi di Haveli yang termurah. Hehehe. Namun, jangan remehkan harga tiketnya, Haveli yang kami kunjungi telah membuat kami ternganga! Aku yakin arsitektur dan detail motifnya tidak kalah dengan Haveli lain.

Tentunya makan siang sudah pada agenda kami. Meera telah merekomendasikan Delight Restaurant sebagai tempat makan siang wajib di Jaisalmer. Restoran ini terletak di luar kompleks kastil dan Haveli, jadi kami menyewa tuktuk untuk ke sana. Restorannya sederhana, agak mengingatkan kami dengan restoran Padang dengan meja-meja besar tersusun, sengaja dibuat untuk minimal empat pengunjung. Dapurnya terletak di depan, tapi tertutup, jadi kami tidak bisa mengintip. Sepulang kami dari India, kami sepakat bahwa restoran ini mempunya cita rasa paling top dilidah kami. Selain itu, harganya lebih murah dibanding restoran-restoran lain yang kami datangi.

Bisa sewa boat untuk mengelilingi danau dan mampir ke gazebo-gazebo (?) yang ada di tengah danau. Di sisi lain danau, kami juga melihat banyak warga yang piknik-piknik. Tapi kurang tahu masuk dari jalan mana. Di sini kalau pagi-pagi ngejar sunrise katanya bagus.

Gadisar Lake, atau juga dikenal Gandisar adalah tujuan kami berikutnya. Danau ini merupakan danau buatan. Sebenarnya tempat ini akan indah jika dikunjungi saat matahari terbit ataupun matahari terbenam. Sayangnya pagi tadi hujan, jadi aku mengurungkan niat untuk mengunjungi danau ini pagi-pagi untuk mengejar sunrise.

Danau ini juga dibangun oleh Raja Rawal Jaisal, difungsikan sebagai sumber air hujan di kota ini. Pintu gerbang danau ini, Tilon ki Pol, juga memukau, berdiri megah dengan warna kuning keemasan. Di sekitar juga terdapat kuil-kuil, mengelilingi danau, seperti melindungi. Di halamannya, burung-burung merpati berkerumun menikmati hari, menyambut tamu-tamu yang datang. Air danau dari kejauhan terlihat begitu tenang, menarik pengunjung untuk menyewa perahu dan mengarunginya, menikmati keindahan sekeliling dari atas danau, dengan burung-burung yang sedang bermigrasi ikut memandu di langit. The beauty of oasis.

Dinginnya Jaisalmer, bikin ga jadi niat dress-up buat foto-foto. LOL.

Bada Bagh, ternyata jaraknya cukup jauh di pinggiran kota. Sekitar 20-30 menit perjalanan, sehingga kami pergi dari pukul 4 sore agar tidak ketinggalan momen sunset. Meera sudah menyiapkan tuktuk untuk kami dari hostel. Sopirnya adalah temannya sendiri -yang aku lupa namanya-, dan sangat ramah. Sepanjang perjalanan ia memutar lagu-lagu India. Walaupun kami tak tahu arti lirik dan belum pernah dengar sebelumnya, lagu-lagu India selalu bisa dinikmati siapapun (menurutku, haha).

Chattri-chattri yang berwarna kuning keemasan diterpa cahaya sore hari.

Kami disambut oleh pepohonan hijau di kanan kiri Bada Bagh. Konon, di kota gurun ini, Bada Bagh sengaja dibangun sebagai taman hijau. Selain itu, tempat ini juga merupakan tugu memorial kerajaan yang terdiri dari beberapa Chattri, arsitektur khas Islam India berupa paviliun berbentuk kubah-kubah.

Walau terlihat makam-makam berjejeran, namun tidak ada yang membuat nuasan seram, justru terlihat indah karena Chattrichattri berwarna kuning keemasan. Sambil berkeliling, kami mencari spot untuk duduk menikmati sunset. Matahari tampaknya sudah lelah berjalan dan bersiap tidur.

Meera benar, Bada Bagh merupakan sunset point terindah di Jaisalmer. Yah, walaupun bagi kami ini adalah sunset pertama kami, tapi kami sangat merekomendasikannya! Semburat oranye di langit kontras dengan warna hijau pepohonan di depan kami. Di sekeliling kami, warna keemasan Bada Bagh kian meredup bersamaan matahari yang kian menghilang. Menikmati pemandangan menakjubkan ini dengan siapapun akan membuatmu terharu.

Jaisalmer, I wish I’ll back again.

Itinerary & Budget (Perorang)

Disclaimer: Pada bagian description adalah kegiatan kami dan biaya untuk 4 orang. Sedangkan total adalah biaya perorang.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *