Home » Jaipur, Rajasthan Trip (India – Part 4)

Jaipur, Rajasthan Trip (India – Part 4)

Kota Jaipur merupakan ibu kota Rajasthan. Seperti kota-kota sebelumnya, kota ini juga mempunyai sebutan dari warna yang khas, yaitu warna merah muda. Pink City, itulah sebutannya. Jika pergi ke kawasan kota lama Jaipur, maka memang semua kota berwarna merah muda dari dinding-dinding temboknya.

Hari ini adalah hari terakhir kami di India. Kami tidak ada rencana menginap di sini. Sebetulnya sangat disayangkan, tapi apa boleh buat jatah cuti sudah tidak bisa diperpanjang lagi. Kami berjalan menuju parkiran mobil di luar stasiun untuk mencari mobil jasa tur hari ini. Perut kami sudah lapar, tapi sulit mencari sarapan jam segini. Kami menanyai driver kami pun, beliau bingung ingin mengajak makan di mana. Aku jadi ingin makan bubur ayam di pinggir jalan. Kalau di Indonesia, pasar juga pasti sudah sibuk dan gampang cari sarapan di pinggir jalan. Kalau di India, hati-hati saja makan sembarangan di jalan. Hehe.

Hawa Mahal, The Palace of Winds.

Akhirnya, kami langsung diantar menuju Hawa Mahal, The Palace of Winds yang terkenal itu. Istana yang dibangun pada 1799 ini berbentuk seperti sebuah mahkota raksasa berwarna merah muda. Seringkali aku melihat foto-fotonya berkeliaran di lini masa Instagram, dan sekarang aku berdiri di depannya! Karena masih sangat pagi, jadi masih belum ada turis-turis yang foto di depan sini. Hawa Mahal ini berdiri di pinggir jalan, jika lalu lintas sudah padat, pasti akan sulit untuk parkir lama-lama di sini. Biasanya, turis menikmati keindahan Hawa Mahal dari kafe yang ada di seberang jalan. Tapi, warung saja belum buka, apalagi kafe. Huhu.

Bangunan yang menjadi ikon kota Jaipur ini tentunya mempunyai cerita. Walau kami tidak masuk ke dalamnya, sebelum kemari, aku sudah melakukan sedikit riset. Dahulu, istana ini dibangun khusus untuk wanita kerajaan, baik itu istri-istri raja ataupun putri-putri kerajaan. Mereka ditempatkan secara tersendiri karena para wanita dilarang memperlihatkan dirinya di depan umum.

Harus kembali ke Jaipur suatu saat, lalu mampir masuk Hawa Mahal. Penasaran banget interior di dalam seperti apa.

Lalu, Hawa Mahal sendiri mempunyai makna secara harviah, yaitu Istana Angin. Mengapa disebut demikian? Arsitektur bangunan ini terdiri dari banyaknya jendela-jendela kecil yang dirancang sedemikian rupa hingga berfungsi sebagai ventilasi. Dengan jendela-jendela kecil sebagai ventilasi tersebut pastinya membuat penghuni kerajaan betah di dalam karena semilir angin, ya. Ah, tapi pasti juga bosan, ingin juga kan main-main ke luar. Tidak masalah, dari balik jendela para wanita kerajaan juga bisa mengintip dunia luar, kok. Mereka masih bisa menikmati meriahnya festival-festival di luar istana melalui jendela. Mereka bisa dengan leluasa melihat ke luar, tapi dari luar istana tidak akan bisa melihat ke dalam. Unik, ya. Setelah berkeliling Rajasthan, rata-rata jendela di istana memang difungsikan seperti itu, agar bisa juga memata-matai keadaan luar istana, terutama jika ada musuh datang.

Jal Mahal, The Water Palace

Dari Hawa Mahal, kami melanjutkan melihat matahari terbit di Jal Mahal, istana yang berdiri di atas danau Man Sagar. Kami beruntung sekali karena datang tepat saat matahari mulai membulat. Pagi yang dingin mulai terasa hangat berkat sinar matahari. Jal Mahal ini bisa dinikmati dari pinggiran danau di pinggir jalan. Sayangnya, istana ini tidak dibuka untuk umum. Konon, istana ini dibangun sebagai lodge pribadi Maharaja Madho Singh I, lalu sempat terabaikan selama 2 abad. Wah, coba Taj Hotel mungkin bisa diambil alih, biar dikomersilkan seperti Jag Mandir? Hehe.

Walaupun foto ini editannya kurang mulus karena bukan pakai file RAW, tapi aslinya memang secantik ituuu.

Panna Meena ka Kund Stepwell

Tak berlama-lama karena keburu silau, kami melanjutkan perjalanan menuju Amber Palace Fort. Terletak di atas bukit Amer, berjarak 11 km dari pusat kota Jaipur. Makanya, Amber Fort ini juga disebut sebagai Amer Fort. Dari kejauhan saja, Amber Fort sudah gagah sekali. Kami sempat berhenti di danau Maotha, danau yang ada di depan Amber Fort persis. Kami mengambil beberapa foto dan melihat untaian tembok benteng yang sekilas seperti tembok Cina saking panjangnya.

Sebelum ke pintu gerbang Amber Fort, kami mampir dulu ke Panna Meena ka Kund, stepwell yang ada di Jaipur. Stepwell ini lebih besar daripada yang ada di Jodhpur, tapi sayangnya kami tidak boleh jalan-jalan turun ke bawah. Bahkan hanya berdiri di pinggirannya saja, sudah disemprit oleh penjaga. Huft. Jadi kami hanya sebentar saja lalu kembali menuju ke Amber Palace.

Amber Palace Fort

Ada dua gerbang untuk turis masuk, yaitu Suraj Pol dan Chand Pol. Keduanya sama-sama terhubung dengan Jaleb Chowk, yaitu taman utama Amber Fort. Kami masuk dari pintu Chand Pol, yang terdapat parkiran mobil.

Saat masuk ke area istana, siap-siap saja disambut oleh warga lokal yang menawarkan jasa tur, atau juga menawarkan pernak-pernik. Kami sudah kebal, jadi cuek-cuek saja. Jika datang dari gerbang Suraj Pol, pasti akan susah naik ke sampai ke gerbang karena cukup jauh. Di sana katanya akan ditawarkan untuk ke atas dengan menunggangi gajah layaknya raja-raja Rajasthan. Wah, ingin juga, sih, tapi kasihan gajahnya.

Area istana Amber cukup luas dan menarik. Suasananya sedikit berbeda dengan istana-istana yang kami kunjungi sebelumnya. Mungkin, karena sangat ramai pengunjung. Terutama pengunjung dari Cina. Padahal, kami sudah datang pagi-pagi sekali, lho.

Amber Palace Fort, ini didirikan pada tahun 1592 oleh Raja Man Singh I. Istana Amber juga dipengaruhi oleh gaya arsitektur Hindu dan Mughal, seperti istana-istana khas Rajasthan lainnya. Setiap bagian dari istana Amber ini sangat Instagrammable, hanya saja, mungkin karena belum mandi sama sekali dan muka sangat kucel, aku tidak ada mood untuk foto-foto di sini. Hehehe. Salah banget, deh, hanya sehari di Jaipur. 🙁

Nahargarh Fort

Salah satu benteng yang wajib dikunjungi ketika di Jaipur. Waktu terbaik untuk berkunjung, sih, saat matahari terbenam. Sayangnya kami datang saat siang-siang, di mana saat itu sangat terik sekali. Padahal sedang musim dingin. Entah apa yang merasuki kami, karena begitu sampai di sana, kami bukannya memanfaatkan untuk masuk tapi malah nongkrong-nongkrong cantik di depan parkiran, sambil jajan lantaran memang sudah lapar. Nah, tapi kalian jangan lupa deh untuk menyempatkan masuk ke sini jika ada kesempatan!

Pemandangan dari benteng ini keren sekali!
Ngomongnya, sih, nongkrong di depan benteng… Padahal mah bantuin jualan, biar bisa makan siang terakhir di India.

Jantar Mantar

Karena sudah semakin siang, kami kembali ke pink city untuk makan siang lalu lanjut keliling sebelum akhirnya terbang kembali ke Jakarta melalui Kuala lumpur. Tujuan kami selanjutnya adalah Jantar Mantar, sebuah arsitektur observatorium astronomi pada zaman Maharaja Jai Singh II. Aku sendiri tidak bisa berkata-kata setelah masuk ke Jantar Mantar. Bayangkan saja, ilmu astronomi pada tahun 1724, mereka sengaja membangun instrumen-instrumen untuk mengamati astronomi dengan mata telanjang. Salah satunya adalah Samtrat Yantra, jam matahari terbesar di dunia yang menunjukkan waktu lokal hingga akurasi 2 detik.

Selain itu ada juga Jai Prakash, jam matahari hemispherical yang dipengaruhi oleh Yunani. Dan masih banyak lagi instrumen-instrumen lain dengan total 20 instrumen. Gak kebayang, kan, kerennya Maharaja Jai Singh II ini.

Selain instrumen-instrumen tersebut, Jantar Mantar juga terdapat taman kecil, jika kalian ingin mengistirahatkan kaki usai berkeliling, duduk-duduklah di taman ini. Jangan duduk sembarangan di area instrumen kalau tidak mau disempritin petugas. Hehehe. Soalnya aku disempritin saat ngaso dan numpang foto.

Pengelolaan Jantar Mantar ini bagus juga, area toiletnya juga bersih. Hanya saja, siap-siap kena palak ibu-ibu penjaga toilet, ya! Siapkan recehan jika kebelet.

Dari Jantar Mantar, bisa mampir ke City Palace Jaipur. Tapi kami juga skip masuk ke sini, karena….. mau makan saja! Hehehe.

Albert Hall Museum

Saat itu, di India sedang banyak-banyaknya demo umat Muslim lantaran issue UU yang mendiskriminasi Muslim. Kebanyakan demo dan kerusuhan terjadi di New Delhi dan kota-kota besar lainnya, termasuk Jaipur. Kami hampir batal ke Albert Hall Museum karena demo yang sedang ditiadakan persis di depan museum. Untungnya kami datang saat demo baru saja usai dan jalanan kembali di buka. Gerombolan umat Muslim termasuk wanita-wanita dengan pakaian serba hitam dan berjilbab panjang serta bercadar terlihat mulai membubarkan diri. Sedih, melihat perpecahan yang diakibatkan oleh perbedaan agama seperti ini. Ternyata tidak hanya di Indonesia saja, herannya komunitas Muslim di India merupakan yang terbesar di dunia, tapi berbanding terbalik dengan keadaan di Indonesia. di Indonesia seringnya Muslim ngebully agama lain. Hadeh…

Untuk masuk ke Albert Hall Museum tentunya tidak gratis, membuat kami urung masuk ke dalam. Hehehe. Maklum sudah hari terakhir, sudah miskin. Jadi, kami hanya foto-foto saja di depan museum. Berdasarkan informasi online, tempat ini dibangun pada tahun 1876 sebagai tempat konser. Karena arsitekturnya yang mirip dengan Albert Museum di London, makalah tempat ini juga dinamai Albert Hall. Sedangkan saat ini difungsikan sebagai galeri termasuk galeri seni, perhiasan, tekstil, dan lain-lain.

The Patrika Gate

Adakah yang mengetahui mengenai taman melingkar terbesar di Asia?

Jawabannya adalah taman Jawahar. Nah, Patrika Gate ini adalah gerbang masuk menuju taman tersebut. Kami dengan keterbatasan waktu, sayangnya tidak bisa keliling taman. Tapi, sudah sangat cukup puas menghabiskan waktu dengan menganga melihat warna-warni gerbang ini!

Dari kejauhan saja, gerbang yang berwarna merah muda ini sudah stunning! Namun, jika kamu melewati lorongnya, WAW! Lagi-lagi arsitektur dan desain bangunan di India itu bikin kami terkagum-kagum.

Spot ini sangat terkenal sekali di lini masa Instagram, karena menang seunik itu, deh.

Belanja Batu Perhiasan

Nah, sudah tahu kan tujuan aku mengskip masuk 3 destinasi. Hehehe.

Karena jaga-jaga siapa tahu mau beli oleh-oleh! Dasar ya, jiwa perempuan tidak jauh dari belanja ini itu di mana pun, deh.

Di Jaipur ini terkenal dengan perhiasan batu-batu alam. Berdasarkan informasi dari temanku yang sudah pernah ke Jaipur dan New Delhi sebelumnya, harga perhiasan di sini lebih murah ketimbang di New Delhi. Tapi, kalau mau belanja sari lebih baik beli di New Delhi atau di Agra. Kalau aku, sari sih sudah dapat gratisan waktu di Jodhpur. Hehehe.

Terakhir, kami diajak minum chai sambil duduk-duduk sore di pinggir jalan oleh bapak sopir. Bahkan kami ditraktir chai-nya! Baik sekali. Walau dengan bahasa Inggris yang terbatas, tapi beliau sangat ramah dan sabar mengantarkan kami keliling Jaipur dari pagi buta, padahal rumahnya jauh di pinggiran kota. Semoga, kali lain bisa pergi ke Jaipur lagi dan bisa bertemu lagi dengan bapak sopir baik hati.

Demikian, perjalanan terakhir kami di Rajasthan, India. Jika ditanya apakah ingin datang lagi, aku akan menjawab dengan keras-keras, MAU! Bahkan, mau sekali tinggal beberapa bulan di sini untuk sekedar belajar Yoga atau kuliner India, siapa tahu pulang-pulang ke Indonesia bisa jadi instruktur Yoga atau buka restoran India, hehe.

Disclaimer. Photo credit by me, Harvin & Novie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *